Abu Nasim Mukhtar bin Rifai La Firlaz hafizhahullah

 

Sudah pernah, dan berulang kali merasakan betapa kecewanya saat yang diharapkan tak kunjung tiba. Sedih… Pedih… Perih…
Berharap dibantu. Berharap ditolong. Berharap diperhatikan. Berharap diberi. Berharap didampingi.
Sudah dijanjikan. Telah diberi harapan. Katanya besok. Alasannya nanti lusa. Asal bukan sekarang. Terlanjur diberi janji.
Akhirnya kecewa. Ujung-ujungnya mengelus dada. Berharap dan berharap.

Sobat… engkau pasti merasakan itu kan?

Seorang ulama Salaf pernah menyaksikan seseorang yang berkeluh kesah kepada orang lain. Berharap dibantu. Sebab ia sedang kesusahan dan kesulitan.
Kesulitan ekonomi. Kesusahan hidup. Entah makan, minum atau pakaian. Bisa jadi urusan kerja, atau penghasilan. Utang piutang atau beban kewajiban lainnya.

“He, demi Allah. Bagaimana bisa engkau lakukan ini? Engkau mengeluh tentang Dzat yang menyayangimu? Engkau keluhkan kepada manusia yang belum tentu sayang padamu?”, orang itu ditegur.

Benar, Sobat!

Begitulah kita tanpa sadar berperilaku. Sikap buruk yang muncul pada diri kita. Hal negatif yang melekat di pikiran kita.

Engkau susah? Lantas apa yang engkau pikirkan?

Si A barangkali bisa membantu, katamu. Si B mungkin ada solusi, ujarmu. Si C boleh jadi memberimu jalan keluar. Atau si D yang menurutmu cerdas dan penuh pengalaman hingga engkau kira bisa membuka jalanmu yang tertutup.

Apakah tidak boleh meminta masukan dan saran kepada orang lain yang dipercaya?
Boleh saja.

Dalam sebuah jawabannya di program Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibn Baz menjelaskan bahwa boleh-boleh saja kita bercerita atau curhat kepada seseorang, jika tujuannya bermusyawarah. Meminta saran dan masukan.

Namun, jujur jika diakui dan terus terang saja, bahwa kepada Allah kita lupa untuk memohon jalan keluar. Kita lupa kepada Allah dzat yang maha perkasa.
Berharap kepada Allah Ta’ala malah diabaikan.

Cobalah tengok nabi Musa yang saat pergi meninggalkan Mesir untuk menyelamatkan diri.
Bukankah beliau di negeri asing? Bukankah nabi Musa tidak mengenal siapa-siapa? Bukankah beliau sedang lapar dan haus? Bukankah beliau sedang dalam pengejaran musuh?
Di bawah rindangnya pohon,setelah membantu 2 wanita yang menggembala, nabi Musa berdoa kepada Allah:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْـزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Wahai Rabb-ku,hamba benar-benar mengharapkan kebaikan yang Engkau berikan kepadaku.”

Subhanallah!
Ingat, hanya kepada Allah lah engkau mesti berharap!

Ibnul Qayyim menjelaskan hikmah dari kesulitan dan kesusahan yang dihadapi, “Supaya hamba mau memperdengarkan keluhan-keluhannya hanya kepada Allah.”

Sobat… engkau sedang susah hati?
Ada beban berat engkau pikirkan?

Ingatlah bahwa Allah mencintai hamba yang mau berdoa, maka berdoalah kepada-Nya!
Ingatlah bahwa Allah mencintai hamba yang selalu kembali kepada-Nya, maka kembalikanlah urusanmu kepada Allah!

Susahmu… Pedihmu… Perihmu…

Mungkin sebagai pengingat bahwa engkau jauh dari Allah, maka mendekatlah.

13 Desember 2020
Di Lendah.

 


Sumber:
Channel Anak Muda Dan Salaf

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp